that's my blog

Sabtu, 06 Juli 2013

PEMBERIAN OBAT SECARA PARENTERAL

Pemberian obat secara parenteral merupakan pemberian obat melalui injeksi atau infuse. Sediaan parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan ini diberikan melalui beberapa rute pemberian, yaitu Intra Vena (IV), Intra Spinal (IS), Intra Muskular (IM), Subcutaneus (SC), dan Intra Cutaneus (IC). Obat yang diberikan secara parenteral akan di absorbs lebih banyak dan bereaksi lebih cepat dibandingkan dengan obat yang diberikan secara topical atau oral. Perlu juga diketahui bahwa pemberian obat parenteral dapat menyebabkan resiko infeksi.
Resiko infeksi dapat terjadi bila perawat tidak memperhatikan dan melakukan tekhnik aseptic dan antiseptic pada saat pemberian obat. Karena pada pemberian obat parenteral, obat diinjeksikan melalui kulit menembus system pertahanan kulit. Komplikasi yang seringv terjadi adalah bila pH osmolalitas dan kepekatan cairan obat yang diinjeksikan tidak sesuai dengan tempat penusukan sehingga dapat mengakibatkan kerusakan jaringan sekitar tempat injeksi.
Pada umumnya pemberian obat secara parenteral di bagi menjadi 4, yaitu :
A.     Pemberian Obat Via Jaringan Intra Kutan
B.     Pemberian Obat Via Jaringan Subkutan
C.     Pemberian Obat Via Intra Vena : Intra Vena Langsung dan tak langsung
D.    Pemberian Obat Via Intramuskular

A. Pemberian Obat Via Jaringan Intra Kutan

1. Pengertian Intra Kutan
Merupakan cara memberikan atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit. Intra kutan biasanya di gunakan untuk mengetahui sensivitas tubuh terhadap obat yang disuntikkan.
2. Tujuan
Pemberian obat intra kutan bertujuan untuk melakukan skintest atau tes terhadap reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan. Pemberian obat melalui jaringan intra kutan ini dilakukan di bawah dermis atau epidermis, secara umum dilakukan pada daerah lengan tangan bagian ventral.
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
  • Tempat injeksi
  • Jenis spuit dan jarum yang digunakan
  • Infeksi yang mungkin terjadi selama infeksi
  • Kondisi atau penyakit klien
  • Pasien yang benar
  • Obat yang benar
  • Dosis yang benar
  • Cara atau rute pemberian obat yang benar
  •  Waktu yang benar

4. Indikasi dan Kontra Indikasi
  • Indikasi : bisa dilkakukan pada pasien yang tidak sadar, tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, tidak alergi. Lokasinya yang ideal adalah lengan bawah dalam dan pungguang bagian atas.
  • Kontra Indikasi : luka, berbulu, alergi, infeksi kulit


B. Pemberian Obat Via Jaringan SubKutan

I. Pengertian. 
Merupakan cara memberikan obat melalui suntikan di bawah kulit yang dapat dilakukan pada daerah lengan bagian atas sebelah luar atau sepertiga bagian dairi bahu, paha sebelah luar, daerah dada dan sekitar umbilicus (abdomen).

II. Tujuan
Pemberian obat melalui jaringan sub kutan ini pada umumnya dilakukan dengan program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah. Pemberian insulin terdapat 2 tipe larutan yaitu jernih dan keruh karena adanya penambahan protein sehingga memperlambat absorbs obat atau juga termasuk tipe lambat.

III. Hal-hal yang perlu diperhatikan
  • Tempat injeksi
  • Jenis spuit dan jarum suntik yang akan digunakan
  • Infeksi nyang mungkin terjadi selama injeksi
  • Kondisi atau penyakit klien
  • Apakah pasien yang akan di injeksi adalah pasien yang tepat
  • Obat yang akan diberikan harus benar
  • Dosis yang akan diberikan harus benar
  • Cara atau rute pemberian yang benar
  • Waktu yang tepat dan benar

IV. Indikasi dan kontra indikasi
  • Indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama, karena tidak memungkinkan diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saras besar di bawahnya, obat dosis kecil yang larut dalam air.
  • Kontra indikasi : obat yang merangsang, obat dalam dosis besar dan tidak larut dalam air atau minyak.

C. Pemberian Obat Via Intra Vena :

a. Pemberian Obat Via Jaringan Intra Vena langsung
1. Pengertian
Cara memberikan obat pada vena secara langsung. Diantaranya vena mediana kubiti/vena cephalika (lengan), vena sephanous (tungkai), vena jugularis (leher), vena frontalis/temporalis (kepala).

2. Tujuan
Pemberian obat intra vena secara langsung bertujuan agar obat dapat bereaksi langsung dan masuk ke dalam pembuluh darah.

3. Hal-hal yang diperhatikan
  • Setiap injeksi intra vena dilakukan amat perlahan antara 50 sampai 70 detik lamanya.
  • Tempat injeksi harus tepat kena pada daerha vena.
  • Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
  • Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
  • Kondisi atau penyakit klien.
  • Obat yang baik dan benar.
  • Pasien yang akan di injeksi adalah pasien yang tepat dan benar.
  • Dosis yang diberikan harus tepat.
  • Cara atau rute pemberian obat melalui injeksi harus benar.

4. Indikasi dan kontra indikasi
  • indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral dan steril.
  • kontra indikasi : tidak steril, obat yang tidak dapat larut dalam air, atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.

b. Pemberian Obat Via Jaringan Intra Vena Secara tidak Langsung.
1. Pengertian
Merupakan cara memberikan obat dengan menambahkan atau memasukkan obat ke dalam wadah cairan intra vena.

2. Tujuan
Pemberian obat intra vena secara tidak langsung bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar terapeutik dalam darah.

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan
  • injeksi intra vena secara tidak langsung hanya dengan memasukkan cairan obat ke dalam botol infuse yang telah di pasang sebelumnya dengan hati-hati.
  • Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
  • Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
  • Obat yang baik dan benar.
  • Pasien yang akan di berikan injeksi tidak langsung adalah pasien yang tepat dan benar.
  • Dosis yang diberikan harus tepat.
  • Cara atau rute pemberian obat melalui injeksi tidak langsung harus tepat dan benar.

4. Indikasi dan kontra indikasi
  • indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral dan steril.
  • kontra indikasi : tidak steril, obat yang tidak dapat larut dalam air, atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.

D. Pemberian Obat Via Intra Muskular
1.       Pengertian
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan dapat dilakukan pada daerah paha (vastus lateralis) dengan posisi ventrogluteal (posisi berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan atas (deltoid).

2.      Tujuan
Agar obat di absorbs tubuh dengan cepat.

3.      Hal-hal yang perlu diperhatikan
  • Tempat injeksi.
  • Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
  • Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
  • Kondisi atau penyakit klien.
  • Obat yang tepat dan benar.
  • Dosis yang diberikan harus tepat.
  • Pasien yang tepat.
  • Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar.

 4.      Indikasi dan kontra indikasi
  • indikasi : bias dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saras besar di bawahnya.
  • kontra indikasi : Infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saraf besar di bawahnya.